Diam yang Menjaga, Pesantren yang Menahan Banjir dan Air Mata
Air mengalir tanpa suara, membawa lumpur, batang kayu, dan sisa-sisa kehidupan. Di tengah derasnya banjir yang melanda Aceh Tamiang, sebuah pesantren berdiri dalam diam. Tidak berteriak. Tidak mengeluh. Namun kehadirannya menahan lebih dari sekadar air.
Pesantren Darul Mukhlisin, yang terletak di Desa Tanjung Karang, Aceh Tamiang, menjadi saksi bagaimana alam berbicara dengan caranya sendiri. Dari pandangan udara, tampak jelas aliran banjir tertahan di area pesantren. Seolah bangunan sederhana itu berkata lirih, “Biarlah aku di sini.” Jika tidak ada, entah berapa rumah, entah berapa harapan, yang akan ikut hanyut bersama arus.

Kalimat yang beredar luas di media sosial, “Kalau pesantren gak ada, bagaimana dengan desa di sini?”, bukan sekadar tulisan. Ia adalah pertanyaan nurani. Pesantren sering hadir tanpa sorotan, berjalan dalam sunyi, namun justru menjadi penopang paling setia bagi desa dan warganya.
Di dalam pesantren, para santri diajarkan menahan diri, bersabar, dan ikhlas. Dan pada hari itu, pesantren pun mengamalkan pelajaran yang sama: diam, namun menahan. Menahan air agar tidak meluas, menahan dampak agar tidak semakin menyakitkan, menahan luka agar tidak bertambah.
Tak jauh dari lokasi, permukiman warga dan fasilitas umum berada dalam posisi rentan. Namun pesantren tetap menjadi benteng pertama. Bukan dengan tembok tinggi atau peralatan berat, melainkan dengan keberadaannya yang apa adanya, tetapi penuh makna.
Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa pesantren bukan sekadar tempat belajar ilmu agama. Ia adalah rumah nilai, rumah pengabdian, dan rumah perlindungan. Keberadaannya sering tak terlihat, tetapi manfaatnya nyata dan luas.
Semoga Allah ﷻ senantiasa menjaga pesantren-pesantren yang berdiri dalam kesunyian pengabdian. Menguatkan para pengasuhnya, melindungi para santrinya, dan menjadikan setiap jengkal keberadaannya sebagai sebab keselamatan bagi lingkungan sekitar.
Semoga Allah mengangkat musibah ini, mengeringkan air-air duka, dan menggantikan kesedihan dengan ketenangan. Diberi kesabaran bagi yang terdampak, dilapangkan hati bagi yang kehilangan, dan dikuatkan langkah untuk kembali bangkit bersama.
Dan semoga kita semua tidak lupa: bahwa di balik bangunan sederhana dan doa-doa yang lirih, ada penjagaan Allah yang bekerja melalui hamba-hamba-Nya yang ikhlas.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Bagikan:
Terkait
Topik Tren
Populer
Tahnik Bayi
Nikmatnya Mereguk Air Telaga Rasul
Apa itu PULDAPII?